Setting Outlook untuk Gmail :

1.Aktifkan settingan POP di Gmail anda.
2.Buka Outlook Express
3.Isi Incoming mail… dengan : pop.gmail.com
4.Isi Outgoing mail… dengan : smtp.gmail.com
5.Isi account name dengan alamat email lengkap dengan embel-embel @gmail.com
contoh : saya@gmail.com
6.Klik Tool -> Accounts -> Mail. Pilih Account anda lalu klik Properties
7.Pilih bagian Advanced.
8.Isi kolom Outgoing…(SMTP) = 465 dan checklist “This server…(SSL)”
9.Isi kolom Incoming…(POP3) = 995 dan checklist “This server…(SSL)”
10.Pilih Account yg baru saja anda buat, lalu klik properties. Pilih Tab ‘Servers’ dan
checklist bagian ‘My server requires authentication’
11.Klik OK. (Done.. )

Setting Outlook untuk Yahoo! mail

1.Pastikan account anda adalah account yahoo lokal contoh:nama@yahoo.co.id
(penting), bukan yang yahoo.com, untuk yg yahoo.com harus ada tambahan
software sebagai gatewaynya namanya YPops.
2.Login ke Yahoo mail anda, klik ‘Opsi’ yang ada di pojok kanan atas, lalu klik ‘akses
penerusan surat’, lalu cheklist bagian ‘Akses Web & POP’, lalu klik ’simpan’.
3.Buka Outlook Express, Klik Tool -> Accounts -> Mail – lalu klik Add -> mail untuk
membuat account.
4.Masukkan nama anda, nama ini akan digunakan sebagai nama pengirim di setiap
email yg anda kirim.
5.Masukkan alamat email yahoo anda. ingat, yg .co.id bukan yang .com
6.Isi Incoming mail… dengan : pop.mail.yahoo.com
7.Isi Outgoing mail… dengan : smtp.mail.yahoo.com, klik NEXT.
8.Account Name : isi dengan Yahoo ID anda tanpa embel-embel @yahoo.co.id
(cukup yahoo ID nya saja). contoh : email address=budi@yahoo.co.id-> berarti
yahoo ID nya = budi.
9.Masukkan password yahoo anda, dan checklist bagian ‘remember password’. Klik
NEXT, dan FINISH.
10.Pilih Account yg baru saja anda buat, lalu klik properties. Pilih Tab ‘Servers’ dan
checklist bagian ‘My server requires authentication’
11.Klik OK. (Done.. )

SUSUNAN UPACARA HUT RI

Susunan Upacara Bendera Peringatan HUT Proklamasi RI ke 63 (Minggu, 17 Agustus 2008)
a. Pemimpin pasukan mempersiapkan barisan
b. Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara
c. Penghormatan kepada pemimpin upacara
d. Laporan kepada pemimpin upacara oleh pemimpin pasukan, bahwa pasukan siap mengikuti upacara
e. Pembina upacara memasuki lapangan upacara, pasukan disiapkan
f. Penghormatan kepada pembina upacara dipimpin oleh pemimpin upacara
g. Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara bahwa upacara siap dilaksanakan
h. Pengibaran Bendera Merah Putih oleh petugas diiringi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya
i. Mengheningkan cipta dipimpin oleh pembina upacara
j. Pembacaan Undang Undang Dasar 1945 oleh petugas upacara
k. Pembacaan Teks Pancasila oleh Pembina Upacara dan diikuti oleh seluruh peserta upacara
l. Pembacaan teks proklamasi oleh petugas upacara
m. Sambutan dari pembina upacara pasukan diistirahatkan
n. Menyanyikan lagu wajib oleh seluruh peserta upacara, pasukan disiapkan
o. Doa
p. Laporan kepada pembina upacara bahwa upacara telah selesai
q. Penghormatan kepada pembina upacara dipimpin oleh pemimpin upacara
r. Pembina upacara meninggalkan lapangan upacara
s. Penghormatan kepada pemimpin upacara
t. Pemimpin upacara meninggalkan lapangan upacara
u. Pemimpin pasukan membubarkan pasukan
v. Upacara selesai

LOMBA BACA PUISI

Salah satu acara yang paling saya suka ketika memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah lomba baca puisi perjuangan. Seingat saya, sejak SD hingga SMA saya selalu menyempatkan diri untuk menjadi peserta lomba. Sayangnya, dari sekian kali menjadi peserta lomba baca puisi perjuangan, belum pernah sekalipun saya berhasil mendapatkan gelar juara. Paling banter hanya bisa masuk babak perempat final. Tapi itu tidak terlalu penting buat saya (ngeles deh!), yang lebih penting dari itu semua adalah saya menikmatinya.

Membaca puisi dan mendengarkan orang membaca puisi memiliki kenikmatan tersendiri. Kadang kala, jika benar-benar bisa menghayati isi puisi tersebut, kita bagaikan mengalami suatu loncatan kuantum masuk ke dalam suasana yang digambarkan dalam puisi tersebut. Itulah sebabnya, saya selalu menikmati lomba baca puisi perjuangan, karena sepertinya saya bisa ikut merasakan bagaimana sebuah perjuangan melawan penjajahan dan penindasan dikobarkan di bumi tercinta Indonesia.

Ketika saya membacakan atau mendengarkan sajak Diponegoro, seolah-olah saya kembali meloncat ke tahun 1800-an ketika Diponegoro dengan gagahnya memimpin perjuangan melawan kekejaman penjajah di tanah Jawa. Seolah saat itu saya berada di tengah-tengah pasukan Diponegoro, membawa sebilah keris yang siap menerjang menghempaskan kekuatan pasukan kompeni.

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
(potongan sajak Diponegoro, karya Chairil Anwar, Februari 1943)

Atau terbayang pula bagaimana saya termasuk ke dalam salah satu dari beribu tulang-belulang berliput debu yang terbaring di antara Krawang-Bekasi, gugur dalam berperang merebut hak kami yang terampas, ketika membaca atau mendengarkan sajak Krawang-Bekasi.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
(potongan sajak Krawang-Bekasi, karya Chairil Anwar, 194 8)

Loncatan kuantum seperti itu sungguh membuat semangat cinta tanah air menggelora dalam dada, mengalir membasahi seluruh relung jiwa…

Merah-Putih !
Kini, kulihat Kau terkibar di tengah bangsa
lambang kebangsaanku di Timur Raya,
Engkau panji perjuanganku
mengejar kemulian bagi bangsaku,

Dan demi Tuhan Pencipta bangsa,
Selama masih bersiut nafas di dada
berdenyut darahku penyiram medan
ta’kan kembali Kau masuk lipatan !
(potongan sajak Merah Putih, karya Usmar Ismail, 1944)

Sungguh suatu kenikmatan tak terperi ketika jiwa muda yang tak tahu dan tak mengalami beratnya mengangkat senjata ini, mampu untuk meloncat dan sedikit merasakan semangat perjuangan, semangat kebersamaan, semangat senasib sepenanggungan dari orang-orang yang tertindas dan terampas harga dirinya.

Impian akan harga kemerdekaan manusia
mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur
gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT
sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran
dalam pasukan
di pos terdepan ini
(potongan sajak Jawaban dari Pos Terdepan, karya Taufiq Ismail, 1965)

Dirgahayu Indonesiaku…
Kini saatnya giliran kami untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menciptakan kemakmuran dan keadilan bagi semua.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
(potongan sajak Orang-orang Miskin, karya W.S. Rendra, 197 8)

SUSUNAN UPACARA

Ikut Upacara Bendera 17 Agustus

Hmm…17an kali ini, gw ikutan upacara. ‘Iseng’ aza ikut…setelah hmmm…berapa lama ya gw ga ikut upacara…well…kali ini nyempetin ikut…kebetulan lagi di Bandung.

Jam 7 pagi, gw dah siap…berpakaian batik, gw menuju lapangan SD gw dulu. Setelah sampai, gw liat masih dilakukan gladi resik. Paskibra sedang berlatih baris berbaris dan mengibarkan bendera. Duh….jadi inget puluhan tahun lalu, pas gw masih SD…gw sering ditunjuk jadi petugas upacara…sekarang gw yg jadi peserta. Duh, masa2 SD emang yahud. tongue

Gw ngumpul dg bapak2 +sesepuh lain. Hwalah..ada yg dah berusia 91 tahun. Hmmm…pasti beliau merasakan perbedaan saat dijajah dan setelah merdeka. Kagum gw.cool

Tak lama, ada pengumuman dari pihak sekolah bahwa upacara akan dimulai. Hwaladah…yg ngumumin ternyata guru SD gw, hihihi… tongue Kami segera berbaris…susunan pelaksanaan upacara bisa dilihat di gambar berikut:

Setelah berbaris, pasukan disiapkan pemimpin upacara. Kebetulan guru SD gw yg jadi pemimpin upacara. Siaappp grak…. Lencang kanaaannnn grak… Hwahahhaa…bener2 ngingetin masa SD. Di samping kanan gw, berbaris anak2 SD. Hawlah…gw dulu seimut dan sekecil mereka ya? Hihihih…lucu lihat anak2 SD, ada yg cengar cengir, ada yg toleh kiri kanan, ada yg nendang2 sepatu temennya. Duh…temen2 SD gw pada kemana ya?? devil big grin

Sesaat kemudian, upacara dimulai. Susunan upacaranya adalah sebagai berikut:
1. MC mempersilakan pemimpin upacara memasuki lapangan upacara
2. Pemimpin upacara masuk ke lapangan, lalu menyiapkan barisan
3. MC mempersilakan pembina upacara memasuki lapangan upacara
4. Pembina upacara (diiringi pembawa teks proklamasi) memasuki lapangan upacara
5. Pemimpin upacara memberikan aba2, hormat kepada pembina upacara
6. Pemimpin upacara lapor kepada pembina upacara bahwa upacara siap dilaksanakan
7. MC mempersilakan paskibra bertugas.
8. Paskibra beraksi, mengibarkan bendera merah putih. Dirigen dan paduan suara juga beraksi, bernyanyi “Indonesia Raya” mengiringi pengibaran bendera merah putih.
9. MC menyatakan acara mengheningkan cipta.
10. Pembina upacara mengajak peserta upacara untuk mengheningkan cipta. Dirigen dan paduan suara kembali beraksi, menyanyikan lagu. (gw lupa lagu apaan ya??)
11. MC memberitahukan pembacaan pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.
12. Petugas pembacaan pembukaan UUD 1945 dan Pancasila beraksi.
13. MC memberitahukan pembacaan teks proklamasi oleh pembina upacara.
14. Pembina upacara membacakan teks proklamasi.
13. MC memberitahukan bahwa paduan suara hendak menyanyikan lagu2 wajib.
14. Pemimpin upacara mengistirahatkan peserta upacara.
15. Dirigen dan paduan suara beraksi lagi, menyanyikan lagu2 wajib. Lagu2 yg dinyanyikan: 17 Agustus, Berkibarlah Benderaku, dan Syukur.
15. MC memberitahukan pembacaan doa.
16. Pembacaan doa oleh petugas terkait.
17. MC memberitahukan upacara telah selesai, pemimpin upacara mesti lapor kepada pembina upacara.
18. Pemimpin upacara lapor kepada pembina upacara bahwa upacara telah selesai.
17. MC mempersilakan pembina upacara kembali ke tempat.
18. Pembina upacara turun dari panggung, kembali ke tempatnya.
19. MC memberitahukan upacara telah selesai, pemimpin upacara bisa membubarkan peserta.
20. Pemimpin upacara membubarkan peserta upacara.

Behhhhh…ternyata lumayan juga ikut upacara…hampir satu jam. En gw baru inget beberapa hal tentang upacara HUT RI:
1. Tidak ada pesan2 dari pembina upacara.
2. Adanya pembacaan teks proklamasi (ya iya lah…upacaranya HUT RI!!!hihihi..)

Hal lain yg berbeda dg upacara pas gw SD dulu:
1. Pembacaan Pancasila sekarang tidak diikuti peserta upacara. Pas gw SD, pembacaan teks Pancasila selalu diikuti peserta upacara…dan ini yg suka bikin heboh, karena anak2 pada saling dulu2an.
2. Hormat (pada pembina dan bendera) hanya dilakukan orang2 yg mengenakan topi. Waktu gw SD dulu, mau pake topi atau ga, semuanya mesti hormat. Sekarang ternyata udah ga…hmmm..beda ya?? tongue

Terlepas dari itu semua…ikut upacara ini ternyata berkesan buat gw:
1. Menghormati pahlawan. Well..gw ga terlibat perang untuk merebut kemerdekaan…jadi gw pikir dengan upacara gw bisa lebih appreciate terhadap pengorbanan yg dilakukan oleh para pahlawan bangsa.
2. Remind my childhood… OLD SCHOOL GETO

NASKAH ASLI ALIAS OTENTIK TEKS PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945

NASKAH ASLI

18 Agustus 1945

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih secara aklamasi oleh PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
Isi Teks Proklamasi

Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.

Naskah Otentik

Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah
seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Sementara naskah yang sebenarnya hasil gubahan Muh.Hatta, A.Soebardjo, dan dibantu oleh
Ir.Soekarno sebagai pencatat. Adapun bunyi teks naskah otentik itu sebagai berikut:

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 – 8 – ‘45
Wakil2 bangsa Indonesia.

HUT KEMERDEKAAN RI KE 63

Mengenang Detik-Detik Kemerdekaan INDONESIA

Sebagai WARGA NEGARA INDONESIA yang menghormati bangsanya,,hendaknya kita harus tau bagaimana detik-detik kemerdekaan kita,karena dengan perjuangan para pejuang kita lah , kita dapat hidup tenang di negara tercinta kita INDONESIA

6 Agustus 1945

Sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima di Jepang, oleh Amerika Serikat.

7 Agustus 1945

BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

9 Agustus 1945

Bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki dan akhirnya menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

10 Agustus 1945

Sementara itu, di Indonesia, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Syahrir memberitahu penyair Chairil Anwar tentang dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan bahwa Jepang telah menerima ultimatum dari Sekutu untuk menyerah. Syahrir mengetahui hal itu melalui siaran radio luar negeri, yang ketika itu terlarang. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda terutama para pendukung Syahrir.

12 Agustus 1945

Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

14 Agustus 1945

Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat.

Sementara itu Syahrir menyiapkan pengikutnya yang bakal berdemonstrasi dan bahkan mungkin harus siap menghadapi bala tentara Jepang dalam hal mereka akan menggunakan kekerasan. Syahrir telah menyusun teks proklamasi dan telah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan.

Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan ‘hadiah’ dari Jepang.
15 Agustus 1945

Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Sutan Sjahrir, salah satu tokoh pemuda mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol. Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 malam 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan UUD yang sehari sebelumnya telah disiapkan Hatta.

16 Agustus 1945

Gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pengikut Syahrir. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Peristiwa Rengasdengklok

Artikel utama: peristiwa RengasdengklokPara pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka menculik Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka langsung menuju ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No. 1 (sekarang gedung perpustakaan Nasional-Depdiknas) yang diperkirakan aman dari Jepang. Sekitar 15 pemuda menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan melalui radio, disusul pengambilalihan kekuasaan. Mereka juga menolak rencana PPKI untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 16 Agustus.
Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Yamamoto dan Laksamana Maeda

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, bertemu dengan Letnan Jenderal Moichiro Yamamoto, komandan Angkatan Darat pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda dengan sepengetahuan Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang. Dari komunikasi antara Hatta dan tangan kanan komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan tidak memiliki wewenang lagi untuk memberikan kemerdekaan.

Setelah itu mereka bermalam di kediaman Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) untuk melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Rapat dihadiri oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut. Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56.

Sebelumnya para pemuda mengusulkan agar naskah proklamasi menyatakan semua aparat pemerintahan harus dikuasai oleh rakyat dari pihak asing yang masih menguasainya. Tetapi mayoritas anggota PPKI menolaknya dan disetujuilah naskah proklamasi seperti adanya hingga sekarang.

Para pemuda juga menuntut enam pemuda turut menandatangani proklamasi bersama Soekarno dan Hatta dan bukan para anggota PPKI. Para pemuda menganggap PPKI mewakili Jepang. Kompromi pun terwujud dengan membubuhkan anak kalimat ”atas nama Bangsa Indonesia” Soekarno-Hatta.

17 Agustus 1945

Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.

NASKAH ASLI

18 Agustus 1945

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih secara aklamasi oleh PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
Isi Teks Proklamasi

Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.

Naskah Otentik

Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah
seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Sementara naskah yang sebenarnya hasil gubahan Muh.Hatta, A.Soebardjo, dan dibantu oleh
Ir.Soekarno sebagai pencatat. Adapun bunyi teks naskah otentik itu sebagai berikut:

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 – 8 – ‘45
Wakil2 bangsa Indonesia.